Pada dua dekade lalu, fenomena nikah muda sudah diangkat menjadi sebuah sinetron yang berjudul “Pernikahan Dini”. Pada masa itu, pernikahan di usia muda masih menjadi hal yang sangat tabu.

Tapi zaman terus bergerak dan berkembang. Hanya dalam waktu dua dekade saja, masyarakat saat ini sudah sering disuguhi fenomena nikah muda yang kerap mengisi kolom harian surat kabar.

Belum reda isu pernikahan yang dilakukan oleh sepasang kekasih yang baru duduk di bangku SMP wilayah Bantaeng pada April 2018 lalu, kini di Tapin kembali beredar kabar tentang pernikahan dua sejoli yang masih muda.

Kabar itu diperkuat dengan beredarnya foto-foto dua ABG yang mengenakan baju pengantin. Dilihat dari busana yang dikenakan, besar kemungkinannya mereka berdua baru saja mengucapkan ijab kabul.

Merujuk pada postingan akun Facebook Yuni Rusmini, pernikahan yang dilakukan oleh kedua pasangan tersebut dilaksanakan di Desa Tungkap, Kec. Binuang, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.

Belakangan diketahui bahwa sepasang kekasih itu bernama Arifin dan Ira. Usia mereka tidak terpaut jauh, hanya selisih 1 tahun saja. Arifin berusia 13 tahun, sedangkan Ira berusia 14 tahun.

Setelah mengucapkan ijab kabul, wajah kedua mempelai pengantin ini penuh senyum dan sangat sumringah.

Tanggapan UNICEF Terkait Hobi Nikah Muda

nikah muda asoy

Ternyata yang memperhatikan tingkah polah ABG di Indonesia tidak hanya netizen, bahkan UNICEF pun ikut mengamatinya. Menurut United Nations Children’s Fund, di Indonesia kasus pernikahan anak di bawah umur sudah lazim terjadi.

Bahkan berdasarkan data yang dimilikinya, pernikahan dini di Indonesia termasuk salah satu yang cukup tinggi. Untuk region ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ketujuh.

Wajar saja jika Indonesia mendapatkan bonus demografi yang melimpah. Hal ini dikarenakan adanya pernikahan anak “ABG” yang banyak dilakukan dalam tiap tahunnya. Tapi apakah bonus demografi ini akan menjadi anugerah ataukah menjadi musibah?

Meskipun masih belum pasti keuntungan apa yang akan didapatkan oleh negara dengan adanya bonus demografi tersebut, setidaknya Indonesia tidak akan sekhawatir Jepang. Gejala ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa penduduk Indonesia tidak akan pernah punah!