Baru-baru ini beberapa linimasa heboh dengan perbincangan para netizen terkait suhu udara yang semakin menurun di Dieng, dan menjadikan dataran tinggi tersebut tampak seperti tertimbun oleh salju. Namun, sebenarnya kawasan yang terkenal dengan wisata kulturalnya itu tengah mengalami fenomena alam yang disebut dengan bun upas.

Fenomena alam tersebut memang biasa terjadi di kawasan Dieng saat puncak musim kemarau tiba. Di beberapa linimasa tersebut, foto-foto embun upas secara masif beredar di media sosial sejak Jumat (6/7).

Mendadak kawasan wisata tersebut menjelma bak negeri salju dan foto-foto para netizen yang diunggah di akun sosial medianya pun mewartakan kondisi alam terkini di Dieng.

Fenomena ini terjadi setelah suhu di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara mencapai lima derajat celsius, hingga pada akhirnya kondisi ini memicu turunnya embun es di kawasan tersebut yang semakin tebal dan meluas. Turunnya embun salju tersebut di Dieng pun juga menarik para warga untuk datang kesana.

Hubungi Kami, Untuk Main Judi Sekarang! SIAP MELAYANI 24 JAM..

Flower

Kabarnya, suhu ekstrim yang terjadi di dataran tinggi Dieng pun akan terus turun hingga Agustus mendatang. Bahkan, suhu pun juga bisa mencapai 0 derajat celsius.

Menurut Kepala Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Slamet Raharjo mengungkapkan bahwa munculnya embun es atau bun upas tersebut malahan lebih tebal dari hari sebelumnya.

Pemandangan cukup menarik pun terlihat di pagi hari ketika embun salju tersebut turun dan menutupi benda-benda yang ada di sekitaran dataran tinggi Dieng.

Embun Upas Dieng Rusak Tanaman Petani
Embun Upas Dieng Rusak Tanaman Petani (Dok. Istimewa)

Embun es ini pun tak hanya memberikan pemandangan baru bagi warga sekitar. Namun, tak sedikit pun pula para petani juga merasakan dampak negatif dari suhu tersebut karena membuat bibit tanaman mereka menguning dan mati.

Namun, para petani pun juga bisa memetik pelajaran dari fenomena ini, dimana dengan turunnya embun es ini mereka harus lebih aktif dalam memperlakukan tanaman di musim kemarau agar terhindar dari gagal panen.

Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Ini

Dilansir dari Kompas.com, Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko mengungkapkan bahwa wilayah Indonesia memang rentang terhadap perubahan iklim atau cuaca.

Memang, saat ini Indonesia juga tengah memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus. Menurutnya, Dengan indikator aktifnya monsun Australia, Indonesia mendapatkan pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia yang menuju ke Asia.

Aliran massa tersebut lah yang akan menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah di Indonesia yang secara geografis terletak di sebelah selatan garis khatulistiwa.

embun upas dieng
Fenomena Embun Upas sebagai penanda puncak musim kemarau (Dok. Istimewa)

Diantaranya beberapa daerah tersebut adalah Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.

Pihak BMKG pun juga menjelaskan secara rinci bahwa saat ini merupakan puncak musim kemarau yang ditandai dengan suhu yang lebih dingin, dimana angin lebih kencang.

BMKG pun juga mengimbau bahwa masyarakat harus lah mempersiapkan diri dalam menghadapi udara dingin yang akan terjadi di beberapa daerah yang disebutkan.

“Masyarakat diingatkan tak perlu khawatir dan resah. Yang penting mempersiapkan diri menghadapi udara dingin ini,” demikian imbauan BMKG.