Nama Harun Yahya pernah sedemikian populer di Indonesia maupun dunia pada  tahun ’90-an, berkat bukunya yang berjudul: Atlas of Creation (Atlas Penciptaan). Nama sebenarnya dari Harun Yahya adalah Adnan Oktar, namun publik sudah terlanjur mengenal sosok penentang teori Evolusi dari Charles Darwin ini sebagai Harun Yahya (diambil dari nama nabi Harun dan Nabi Yahya). Cara bercerita (story telling) Harun Yahya alias Adnan Oktar yang  sedemikian sederhana dan mudah dicerna, tampilan buku yang menarik dari segi cover dan lay outnya ditambah dengan banyaknya ilustrasi, membuat orang jadi tertarik membaca dan kemudian mengoleksinya.

Adalah lumrah jika Adnan Oktar yang merupakan warga negara Turki ini menjadi kaya-raya karena karya tulisnya banyak dibeli oleh orang-orang di seluruh penjuru dunia, terutama negara-negara yang penduduknya beragama Islam. Dengan kekayaannya itulah, dia bisa menghimpun sejumlah pengikut setia. Adapun pengikut setianya yang populer dengan sebutan “The Kittens”, selalu hadir dan dan menjadi daya tarik dalam salah satu acara channel televisi yang didirikannya, yaitu A9.

Adnan Oktar selalu memposisikan dirinya sebagai sosok yang menghormati perempuan. Bahkan, dia pernah menyatakan jika dia pernah mencium kaki ibunya dan menggambarkan pengalamannya itu sebagai pengalaman mencium bau surga. Virus pemikiran Oktar pun segera berkembang pesat dan menjangkiti banyak perempuan di Turki. Oktar pun seolah menjadi semacam nabi dan dikultuskan oleh para pengikutnya.

adnan oktar
adnan oktar (Dok. Istimewa)

Pemikiran-pemikiran Oktar tentang dunia perempuan, persamaan hak perempuan (bahkan Oktar pun seolah men-superior-kan perempuan), membuat publik jatuh cinta. Namun, dari mengamati upload-an channel televisi kepunyaan Oktar, yaitu A9, saya merasakan adanya kejanggalan-kejanggalan. Para perempuan yang dijuluki “The Kittens” tersebut hampir semuanya berambut pirang, berdada besar, berpantat besar. Dan beberapa di antara mereka tampaknya melakukan operasi plastik pada wajah mereka masing-masing. Pada segmen-segmen tertentu, para perempuan itu diajak menari oleh Adnan Oktar, meski kebanyakan mereka hanya menggoyang-goyangkan badannya di tempat duduk masing-masing.

Argumen dari Adnan Oktar, bahwasannya perempuan tidak perlu malu untuk mengekspresikan dirinya, dan membuat diri mereka tetap nyaman dengan kondisi tubuhnya, sekalipun tetap taat dengan syariat agama (Islam). Sekilas, argumen ini sangat menarik dan tepat dengan konteks bahwa seolah-olah agama (Islam) cenderung banyak membatasi ruang gerak kaum perempuan, sehingga tafsir baru Adnan Oktar tentang cara pandang terhadap perempuan ini bisa membangkitkan keberanian para perempuan untuk tampil beda dari kaum perempuan kebanyakan yang selalu merasa dalam represi kaum laki-laki.

Jika bisa mencermati tayangan-tayangan Adnan Oktar di channel televisinya, terlihat kontradiksi antara pernyataan-pernyataan Oktar yang seolah membela perempuan, tapi sebenarnya malah semakin membuat para perempuan (The Kittens) nyata terlihat sebagai obyek fantasi; yang artinya mereka tetap dalam kondisi masih dalam tekanan budaya patriarkhi. Hal itu tergambar dengan tampilnya The Kittens dengan gaya busana, gerak tubuh, ataupun make-up yang menor, namun mereka dalam kondisi pasif. Semua pembicaraan dalam kendali penuh dari Adnan Oktar.

Berita penangkapan Adnan Oktar dan organisasi-organisasi yang dia bentuk oleh Polisi Turki, semisal The Kittens tersebut seolah jadi penegas bahwa ada yang janggal dengan pemikiran dan gerakan Adnan Oktar. Tuduhan bahwa Adnan Oktar dan kroni-kroninya terlibat dengan beberapa perkara kriminal (pelecehan seksual terhadap anak-anak, kepemilikan senjata api, dan lain-lain) tentunya perlu dibuktikan di pengadilan.

Bagi fans fanatik Adnan Oktar, perkara kriminal yang sedang dihadapi Oktar merupakan konspirasi tingkat tinggi untuk memberangus gerakan Oktar untuk mempromosikan kejayaan Turki seperti era kejayaan Turki Ottoman. Kontroversi lain bahwa Oktar memusuhi organisasi Zionisme dan Free Mason lah yang membuat para fans fanatiknya juga meyakini bahwa tayangan di youtube yang menyatakan/menggambarkan upacara inisiasi Oktar dalam mencapai level 33 dalam organisasi Mason juga merupakan fitnah yang keji.

Fenomena Adnan Oktar dan gerakannya adalah pelajaran berharga untuk selalu waspada terhadap pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan agama ataupun keyakinan. Karena agama ataupun keyakinan merupakan produk dari revolusi agrikultur, di mana manusia jadi tidak begitu terbiasa memahami secara integral dan komprehensif terhadap fenomena eksternal dirinya. Manusia cenderung mencari jalan termudah dalam menyelesaikan persoalan hidupnya, dan berakibat kurang cermat dalam menggunakan logikanya. Nampaknya, pertarungan logika dengan iman masih akan berlangsung lebih lama dari yang kita duga.

 

(end)