Viralnesia– Mengapa selalu menyalahkan tinggi gelombang air tanpa memperhatikan kecepatan angin?

Tanggal 18 Juli 2018, sekitar jam 08.15, sebuah kapal penangkap ikan tenggelam setelah sebelumnya terombang-ambing ombak besar di pantai Plawangan, Desa Puger Kulon, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Detik-detik tenggelamnya kapal penangkap ikan tersebut sempat terekam kamera ponsel dari seseorang warga dan menjadi viral di dunia maya. Peristiwa tenggelamnya kapal penangkap ikan tersebut menewaskan beberapa penumpangnya.

Di saat yang hampir bersamaan, beberapa bangunan di tepi pantai dan beberapa tambak udang di Pantai Glagah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dihantam gelombang laut hingga mengalami kerusakan parah, namun tidak ada korban jiwa.

Pada tanggal yang sama, satu bulan sebelumnya, di Danau Toba, Sumatera Utara, Kapal Sinar Bangun tenggelam, dan menewaskan banyak penumpangnya. Musibah-musibah tersebut terjadi dengan menuduh angin sebagai penyebab tingginya gelombang perairan (danau ataupun laut) dan menenggelamkan kapal ataupun merusak bangunan-bangunan di tepi pantai.

Tuduhan tersebut bisa dikatakan beralasan, karena gelombang perairan yang besar ataupun tinggi, seringnya mampu dan berpotensi merusak. Laporan ataupun reportase media sering menyatakan tingginya gelombang perairan dengan ketinggian “sekian meter” yang menyebabkan terjadinya suatu musibah di wilayah perairan tersebut.

Pernyataan tentang tingginya gelombang itu seringnya tidak dibarengi dengan informasi kecepatan angin yang mampu menyebabkan tingginya gelombang perairan tersebut.

Hal ini mungkin terjadi karena sebenarnya sulit mengukur tinggi gelombang perairan secara presisi. Akan tetapi, jika memperhatikan dengan seksama prakiraan cuaca dari BMKG yang mempunyai peralatan yang cukup memadai, maka informasi tentang kecepatan angin di suatu wilayah, dapat dipergunakan sebagai pertimbangan dalam memperkirakan kemungkinan tinggi gelombang yang akan terjadi di suatu wilayah perairan sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan ketika akan mempergunakan moda transportasi perairan.

francis beaufort
francis beaufort (Dok. Istimewa)

Pada tahun 1805, seorang ahli hidrografi berkebangsaan Irlandia bernama Francis Beaufort melakukan pengamatan terhadap kecepatan angin di daratan dan lautan.

Dari hasil pengamatannya, Beaufort membuat satu skala ataupun ukuran empiris yang dapat untuk menggambarkan pengaruh dari kecepatan angin terhadap fenomena yang terjadi sebagai akibat dari kecepatan angin tersebut. Berbagai jenis kecepatan angin, mempunyai dampak yang berbeda-beda pula. Skala Beaufort ini masih dipakai hingga sekarang.

Menyalahkan instansi terkait semacam BMKG terkait kejadian musibah tenggelamnya beberapa kapal tentunya merupakan langkah yang sama sekali tidak bijak. Karena bagaimanapun, BMKG dengan peralatan yang jauh lebih modern dibandingkan dengan kondisinya di masa lalu, pastilah selalu membuat peringatan dini dan diteruskan ke kantor ataupun instansi terkait dan datanya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Menurut penuturan korban tenggelamnya kapal di Jember, peringatan untuk tidak melaut sebenarnya sudah mereka dapatkan dari informasi yang disebar oleh BMKG. Akan tetapi, karena pertimbangan ekonomi rumah tangga yang terancam jika mereka tidak berangkat melaut, membuat para nelayan itu nekat untuk melaut. Pengambilan keputusan oleh para nelayan tersebut tentunya juga tidak bisa disalahkan.

Oleh karena itu, belajar dari berbagai kejadian musibah kecelakaan laut (perairan), akar permasalahan yang tidak tampak, perlu sekali untuk mendapatkan pemecahannya. Hal tersebut akan lebih bermanfaat dibandingkan hanya mencari kambing hitam atas musibah yang terjadi. Solusi-solusi yang terintegrasi dari kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan terjadi perlu untuk disegerakan implementasinya.

Contoh: terganggunya ekonomi keluarga nelayan akibat peringatan tidak melaut bagi nelayan bisa diupayakan alternatif pemecahannya, misalnya dengan konsep asuransi ataupun dana talangan dari pemerintah. Hal tersebut bermanfaat agar nelayan yang tidak melaut, tetap bisa tenang karena perekonomian keluarganya tidak terganggu.