Viralnesia – Pendiri organisasi Miscellaneous Action Clean Puspa Swietenia Lestari, termasuk sebagai seorang penyelam, Swietenia Puspa Lestari, yang sehari-hari sering melihat sampah mengotori pantai atau laut.

Namun, pengalamannya menyelam di perairan Berau, Kalimantan Timur, tiga tahun lalu tidak bisa dilupakannya.

Wanita berusia 25 itu mengatakan dia menyelam pada kedalaman 15 sampai 30 meter di perairan Berau, ketika ia melihat sampah, kantong plastik dan kaleng berserakan di sisi mereka.

Hal itu mengejutkan, kata Tenia, karena bahkan penyelam yang belum memiliki sertifikasi advanced (lanjutan) tidak diizinkan menyelam di titik itu karena arusnya yang kencang.

“Logikanya daerah dalam, banyak arus, nggak akan ada sampah yang nyangkut, tapi di situ ada,” ujar Tenia.

“Nah di situ perasaanku kesal… Ya Allah udah sedalam ini dan sesusah ini (untuk penyelam) kok masih ada sampah ditemukan?”

Dalam keadaan arus kencang seperti itu, para penyelam seharusnya berpegangan tangan erat agar tidak terseret gelombang.

Namun, Tenia memutuskan untuk mengambil risiko dan memungut sampah-sampah itu.

“Aku sampai bela-belain hidupku untuk sampah itu … antara mati dan hidup,” ujar Tenia.

Saat naik ke daratan ia dimarahi oleh instrukturnya karena apa yang dilakukannya sangat berbahaya. Senior Master Agen

kegiatan No Straw Movement
kegiatan No Straw Movement

Di tahun 2017, Tenia mengajak perusahaan itu untuk berpatisipasi pada kegiatan “No Straw Movement” atau “Gerakan Tanpa Sedotan”.

Ia melakukan pelatihan kepada manajer dan pegawai-pegawai restoran itu untuk menghadapi para konsumen yang meminta sedotan.

Hal itu, menurut Tenia, penting karena Indonesia adalah penyumbang sampah sedotan yang besar.

“Sedotan yang dipakai sekitar 93 juta batang per hari. Kalau dijajarin, itu dari Jakarta sampai Mexico City,” ujar Tenia.

Selain itu, ia juga bekerja sama dengan sebuah perusahaan air minum untuk mengangkut sampah dari Kepulauan Seribu ke daratan.

Butuh Kesadaran Kita Untuk Menjaga Kelestarian Alam Laut

DCA telah berkembang ke provinsi-provinsi lain di Indonesia dengan lebih dari 1.000 relawan yang melakukan pembersihan laut juga edukasi warga pesisir soal pemilahan sampah.

Tenia mengklaim sudah banyak pula penyelam-penyelam yang semakin sadar lingkungan dan membawa kantong sampah ketika menyelam.

“Mereka kemudian tag foto-foto mereka di Instagram kami. Itu sesuatu yang aku senang sekali,” ujarnya.

Meski kegiatan sosialisasi sudah gencar dilakukan, belum semua warga sadar akan pentingnya menjaga kebersihan.

Cici, seorang warga di Pulau Pramuka mengatakan masih sering melihat warga membuang sampah langsung ke laut.

“Saya sering lihat yang dibuang kayak popok gitu. Ketika dinasihati, mereka bilang lebih enak buang ke laut karena jadi tidak bau di rumah,” ujarnya.

Tenia menyadari pekerjaannya jauh dari tuntas.

Ia mengaku hingga kini sering merasa emosi dan capek melihat apa yang disosialisasikannya pada warga belum berjalan sempurna.

Namun, ia sadar bahwa perubahan tidak bisa dilakukan dengan cara instan.

Tenia pun mengingat pengalamannya melepaskan ikan yang terjerat plastik saat menyelam di Pulau Pramuka.

“Walau kadang orang bilang apa yang kamu lakukan nggak penting, ketika kamu bersihin sampah, besok pasti ada lagi, ternyata itu sesuatu yang besar bagi hewan laut,” ujarnya.

“Mereka butuh kita untuk menyelamatkannya.”

Tenia bermimpi di masa depan dapat melihat laut Indonesia yang bersih.

“Aku mau lihat laut Indonesia bersih, nggak ada ikan-ikan atau burung di pesisir yang mati gara-gara sampah.”

“Jadi nggak ada sampah aneh, seperti kasur dan lemari ditemukan di laut karena itu bukan tempat mereka,” pungkas Tenia. Senior Master Agen

Baca Juga : Viral Skripsi Mahasiswa Ditulisi Sampah, Dosen Klarifikasi