Situasi antara Iran dan Amerika semakin memanas dan ketegangan pun semakin meningkat. Pasalnya tawaran rundingan yang di tawarkan oleh Presiden Amerika yaitu Donal Trump ditolak oleh Presiden Iran Hassan Rouhani.

Menurut Presiden Iran Hassan Rouhani, Iran menolak rundingan ini dikarenakan situasi mereka tidak cocok untuk melakukan perundingan dan pilihan mereka adalah melawan.

Iran menembak jatuh pesawat Amerika

Insiden penembakan pesawat pengintai tanpa awak  Global Hawk milik AS seharga 176 juta dolar yang ditembak jatuh oleh pihak Iran merupakan salah satu penyebab memanasnya hubungan antara kedua negara ini.

Donald Trump mengatakan Iran melakukan kesalahan besar, menurut postingannya di akun twiternya pada hari penembakan. Sentak saja hal ini membuat hubungan antara kedua negara ini semakin memanas.

Roket meledak di dekat Kedutaan Besar Amerika

Ditambah dengan adanya insiden meledaknya Roket di Zona Hijau. Roket tersebut meledak di dekat Kedutaan Amerika Serikat dan di Zona hijau tersebut yang mananya berisi gedung pemerintahan Amerika dan misi diplomatik.

Hal ini pun membuat ketegangan diantara kedua negara ini semakin meningkat dan menyebabkan Washington mengarahkan kapal induk dan pesawat tempurnya ke kawasan Timur Tengah.

‘Bila Iran menginginkan adanya peperangan, maka akan menjadi akhir dari Iran’ Seru Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam akun twitternya.

Ancaman Genosida

Mohammad javad zarif

Menteri luar negeri Mohammad Javad Zarif menyatakan dengan tegas kepada Amerika untuk menghentikan ancaman genosida kepada Iran, dikarenakan Iran tidak takut dan juga Zarif menghimbau tidak ada keingian dari Iran untuk melakukan peperangan dengan negara mana pun. Sehingga Zarif mengatakan kepada Trump untuk tidak terus mengancam Iran.

Sebelumnya antara Amerika dan Iran pernah memiliki hubungan yang cukup baik, Setelah dikarenakan Amerika pernah membantu menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddeqh dan memperkuat kekuasaan monarki oleh Shah Mohammad Reza Pahlevi pada era setelah perang dunia ke II.

Keprihatinan PBB

Presiden Amerika Donald Trump menyatakan akan menghancurkan Iran, mengingat insiden meledaknya bom di dekat Kedutaan Amerika.
Hal ini pun mendapatkan respon dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinannya atas pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Beberapa warga negara Amerika yang tinggal dan bekerja di Iran telah meninggalkan Iran hal ini pun adanya himbauan dari Amerika kepada warga negaranya bagi yang tinggal dan bekerja di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut dan kembali ke Amerika.
Dalam situasi seperti ini di khawtirkan akan adanya peperangan militer.

PBB meminta semua pihak untuk menurunkan retorika dan juga ambang batas tindakan.
Saat ini PBB sedang melakukan kontak dengan kedua belah pihak negara untuk meredakan situasi dan mencari jalan keluar atas permasalahan kedua negara ini, ujar Stephane Dujarric juru bicara PBB.

Sanksi dari Amerika

WASHINGTON, DC –  President Donald Trump

Sanksi Amerika yang berdampak ekonomi yang sudah mulai di rasakan oleh masyarakat Iran terutama bagi rakyat-rakyat kecil di Iran.
Menurut Takht Ravanchi perwakilan Parlemen Iran untuk PBB di New york, dampak dari sanksi Amerika umunya berimbas, pada masyarakat kecil namun tidak terlalu berimbas pada masyarakat golongan atas.
Hal ini sangat merugikan masyarakat bawah. Misalnya untuk masyarakat yang sakit parah dan memerlukan obat-obatan yang sulit dicari dan alat-alat medis yang tidak tersedia yang mana memang harus di impor.

Harga Naik

Dampak lainnya dari sanksi Amerika ini ialah kenaikan semua jenis produk.
Seorang pedagan di Tehran mengeluhkan hal ini, pasalnya harga baju yang dalam 4 bulan yang lalu dia beli dengan harga murah sekarang harga naik menjadi 2 kali lipat bahkan 3 kali lipat.
Lantas saja hal ini membuatnya susah untuk menjual kembali barang dagangnnya tersebut.
Dampak seperti ini juga di rasakan dan di keluhkan oleh para pedagang-pedagang pasar tradisional di Tehran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here