Saya sudah lupa kapan saya mengamati dengan teliti bahwa ternyata peta Indonesia terpampang pada bagian globe yang diangkat figur dua manusia pada piala dunia. Dan ketika momen Piala Dunia 2018 ini saya cerita tentang peta Indonesia itu pada teman-teman saya, mereka tertawa terbahak-bahak. Tapi ketika mereka mengamati dan browsing melalui Google, akhirnya mereka jadi tersadar bahwa mereka tidak begitu mencermati bentuk Piala Dunia itu dan apa yang saya ceritakan itu benar adanya.

Dari dulu, saya lumayan heran juga kok bisa-bisanya peta Indonesia tergambar jelas di antara dua tangan yang terentang? Apakah pembuatnya orang Indonesia? Mengapa Indonesia seolah-olah pada posisi yang ‘penting’ pada peta persepakbolaan dunia?

trofi piala dunia
Coba amati peta Indonesia ada di bagian depan trofi Piala Dunia (Dok. Istimewa)

Saya pun mulai ngulik tentang sejarah dari trofi Piala Dunia. Ternyata, trofi Piala Dunia yang sekarang ini merupakan trofi pengganti dari trofi Jules Rimet yang terakhir diterimakan pada Brasil pada Piala Dunia tahun 1970. Trofi pengganti ini dibuat oleh Silvio Gazzaniga, seorang pematung berkebangsaan Italia, setelah melalui sayembara yang dibuat oleh FIFA pada tahun 1971.

Jika merujuk pada angka tahun pembuatan trofi Piala Dunia ini pada tahun 1971, memang berdekatan dengan tahun masuknya Freeport di Indonesia pada tahun 1967 dan ada kebijakan dari pemerintah era Soeharto untuk melakukan promosi penanaman modal ke Indonesia, bisa dipastikan bahwa nama Indonesia jadi lebih dikenal, terutama karena potensi tambang emas.

Selain itu, jauh sebelum Freeport masuk ke Indonesia, nama Indonesia jadi ‘olok-olok’ karena ada berita dari penjelajah Belanda bernama Jean-Jaques Dozy yang mencoba membuktikan adanya salju di wilayah tropis pada tahun 1936. Penjelajahan Dozy ini didasarkan pada catatan penjelajah Belanda lainnya bernama Jan Cartenszoon pada tahun 1623.

Intrik-intrik politik yang meliputi perebutan Papua oleh Indonesia dan Belanda, dan gonjang-ganjing perebutan kekuasaan dengan dalih penumpasan partai komunis, menyebabkan Indonesia menjadi sorotan dunia. Saya yakin, jika paling Silvio Gazzaniga pasti pernah membaca artikel, jurnal ataupun bacaan lainnya tentang Indonesia dan menjadi inspirasi baginya saat merancang trofi Piala Dunia. Kemungkinan lain, Silvio pernah ke Indonesia dan terkesan dengan kunjungannya tersebut.

Indonesia menempati posisi strategis karena efek perang dingin antara Amerika dengan NATO-nya dan Uni Sovyet. Runtuhnya rezim Soekarno yang dianggap dekat dengan blok Uni Sovyet, dianggap sebagai peluang emas bagi negara-negara NATO dan Amerika Serikat untuk eksis di Indonesia. Bermacam mitos tentang Indonesia pun jadi konsumsi populer media-media Barat.

Kultur Pop inilah yang menjadikan alasan FIFA untuk memenangkan desain dari Silvio Gazzaniga dengan pertimbangan bahwa trofi rancangannya lebih pas masuk ke media televisi dibandingkan dengan trofi Jules Rimet yang lebih tampak sebagai perhiasan yang eksklusif. Benang merah konspirasi dari trofi Piala Dunia rancangan Gazzaniga dengan konflik mineral di Indonesia adalah: menyamarkan konflik berdarah efek perang dingin di Indonesia dengan budaya populer: Sepak Bola.

Naluri kritis rakyat Indonesia perlu dibungkam supaya tetap bodoh dan tidak peka dengan situasi jaman. Rakyat Indonesia dibuat tidak perduli dengan konflik-konflik yang berkaitan dengan aktifitas penambangan emas Freeport di Papua. Di wilayah sepak bola, Indonesia pun hingga kini masih tetap berkutat dengan kekerasan dan tindakan-tindakan yang jauh dari sportif, sangat ironis dengan penamaan klub sepak bola di Indonesia yang kebanyakan dengan singkatan PS (Persatuan Sepakbola). Akibatnya, Indonesia sulit sekali ‘bicara’ dalam forum sepak bola internasional.

suporter indonesia
Banyak rakyat Indonesia mengharapkan timnas garuda bisa tampil di ajang Piala Dunia (Dok. Istimewa)

Mungkin, Indonesia melalui Kementrian Olahraganya perlu belajar dari Jepang yang menciptakan mitos sepakbola melalui budaya populer yaitu dengan menciptakan figur populer serial animasi Kapten Tsubasa. Dengan meyakini mitos Kapten Tsubasa, Jepang mampu tampil menjadi tim sepak bola yang cukup menakutkan bagi lawan-lawannya dan banyak pemain sepakbola Jepang yang merumput di liga-liga bergengsi Eropa. Jepang mampu melawan mitos inferior sepakbola di negerinya sendiri dengan mitos populer; melawan mitos dengan mitos.

Mitos peta Indonesia di trofi Piala Dunia adalah langkah awal menciptakan mitos berikutnya tentang sepak bola Indonesia yang mampu bicara banyak di kancah sepakbola Internasional. Jika penciptaan mitos populer Indonesia bisa mendorong majunya persepakbolaan Indonesia, tentunya langkah tersebut terasa akan lebih masuk akal dibandingkan melakukan naturalisasi pemain-pemain berdarah Indonesia di luar negeri. Semoga doa Silvio Gazzaniga melalui pahatan peta Indonesia di trofi Piala Dunia hasil karyanya bisa menjadi kenyataan.

(end)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here