Manifestasi Kecerdasan Homo-sapiens Indonesia untuk Mengakali Seleksi Alam

Pengelolaan unsur-unsur penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia (Pendidikan dan Kesehatan) sedemikian rumit karena banyaknya jumlah manusia yang harus ditangani. Keterbatasan sarana dan prasarana di bidang pendidikan dan kesehatan bisa dikatakan sebagai bentuk “seleksi alam” berlangsung secara cepat dan lebih awal. Hal tersebut bisa ditunjukkan saat mendaftar masuk ke sekolah negeri yang dianggap favorit. Mitos bahwa anak yang bersekolah di sekolah favorit bisa dipastikan akan sukses di masa depan, membuat banyak orang tua berjuang keras agar anak-anaknya masuk ke sekolah-sekolah yang dianggap favorit itu. Sementara itu, mitos bahwa sekolah merupakan tempat anak menempa diri menjadi manusia yang mampu memanusiakan manusia, ataupun menjadi manusia seutuhnya, tergusur begitu saja.

Nilai-nilai mulia dalam menempuh proses pendidikan seolah menjadi omong kosong belaka. Yang terpenting adalah hasil! Proses, menempati urutan ke-sekian dari keinginan orang tua untuk lolos seleksi masuk ke sekolah yang diidam-idamkan.

Banyaknya foto-foto tentang papan pengumuman di sekolah-sekolah yang menginformasikan akan diberlakukannya pembatalan hasil seleksi masuk sekolah menengah pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA)/SMK, jika ternyata peserta seleksi memalsukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), menunjukkan kekhawatiran pihak sekolah penyelenggara seleksi bahwa akan ada kecurangan yang dilakukan oleh peserta seleksi dengan memanfaatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Dari pengumuman tersebut diketahui bahwa pihak sekolah akan melakukan cek langsung pada calon peserta didik yang lolos seleksi dan memanfaatkan SKTM.

Tentunya, fenomena manipulasi ini sangat membuat miris. Saya teringat pada percakapan seorang teman dengan kerabatnya, beberapa tahun yang lalu. Kerabat teman saya itu dengan cerianya menunjukkan surat keterangan (kartu) miskin. Teman saya merespon dengan nyinyir: “Jadi orang miskin kok bangga?”. Kerabat teman saya itu tampak cuek saja dan hanya menyahut lirih: “Yang penting dapat uang dari negara…”

Dari percakapan antara teman saya dengan kerabatnya itu, saya jadi punya gambaran bahwa mendapat fasilitas, hadiah, atau apa pun yang bersifat gratis itu menjadi semacam kebanggaan tersendiri. Dengan upaya sesedikit mungkin, kemudian mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Tentunya itu merupakan aplikasi dari kapitalisme klasik.

Kembali pada persoalan pemalsuan SKTM. Memalsukan SKTM demi diterima di sekolah favorit tentunya dengan harapan bahwa sekolah negeri favorit dengan harapan akan mendapatkan banyak kemudahan. Kemudahan-kemudahan inilah yang akan memperkecil pengeluaran belanja rumah tangga. Belanja rumah tangga yang lain bisa semakin ditekan, akan memungkinkan untuk menyimpan uang demi kebutuhan yang lain. Kalau ini terjadi pada keluarga yang benar-benar miskin, tentunya penggunaan SKTM tadi menjadi benar dan tepat. Akan tetapi, jika penggunaan SKTM tersebut dimanfaatkan oleh keluarga yang sebenarnya keadaannya bisa dibilang mampu, maka SKTM tersebut akan merebut hak keluarga yang sebetulnya lebih memerlukan.

Tapi kemudian saya menyadari jika perspektif pemikiran saya terhadap penyalahgunaan SKTM jadi terkesan menghakimi. Saya mencoba melihat fenomena penyalahgunaan SKTM itu sebagai proses alamiah yang melibatkan sekian juta manusia (homo sapiens) dalam mencapai tujuannya. Melihat hakikat manusia sebagai apa adanya tentu bukan sekedar penyederhanaan, akan tetapi mencoba melihat peristiwa kehidupan secara apa adanya. Dan seleksi alam terjadi sedemikian cepat. Manusia yang mampu beradaptasi dengan keadaan, pada akhirnya akan menjadi pemenang.

Melakukan rekayasa SKTM jelas merupakan bukti bahwa sebagian manusia (Indonesia) melakukan proses algoritma yang sedemikian kompleks untuk bisa memenangkan persaingan demi tujuan mempertahankan gen-nya. Nilai-nilai agama jadi tidak relevan lagi untuk menyikapi masalah bertahan hidup ini. Prinsip-prinsip keadilan ataupun perilaku yang baik menjadi omong kosong belaka. Manusia yang miskin akan tetap miskin, sementara yang kaya akan tetap kaya, bahkan semakin kaya.

Mencetak generasi penerus yang lebih baik sepertinya hanya akan menjadi mimpi semu yang melenakan dan hanya menjadi slogan-slogan di acara-acara seminar pendidikan yang tidak pernah bisa merumuskan strategi pendidikan yang kokoh, karena sedari awal, para calon siswa itu sudah diperkenalkan pada teknik dasar bertahan hidup di Indonesia; Rekayasa Surat Keterangan Miskin.

(RR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here