Padang menjadi salah satu kota di Indonesia yang mendunia, salah satunya karena lantunan lagu berjudul Nasi Padang yang dinyanyikan oleh Audun Kvitland, bule asal Norwegia. Saking cintanya dengan makanan tersebut, dia bahkan juga sempat mempromosikan Rendang pada saat pameran wisata Internasional Reiselivmessen 2017 di Telenor Arena, Oslo, Norwegia. Audun menyanyikan lagu Nasi Padang dan mengajak para pengunjung untuk mencicipi kuliner yang disajikan di stan KBRI Oslo.

Dikenal sebagai tempat berasalnya rendang, makanan terlezat di dunia, Padang selalu menjadi tujuan wisata wisatawan. Menjadi kota terbesar di pantai barat Sumatera, dan pintu gerbang ke Indonesia bagian barat dari Samudera Hindia, Padang menyimpan banyak legenda menarik tentang budaya Minang. Seperti dua cerita yang telah sangat melegenda, Malin dan Siti.

Batu Malin Kundang, Cerita Rakyat Asal Padang

Batu Malin Kundang di Padang
Batu Malin Kundang di Padang

Jika berbicara tentang anak durhaka, pikiran kita pasti langsung tertuju kepada legenda Malin Kundang. Dan jika Anda akan menghabiskan liburan di Sumatera Barat, jangan pernah melewatkan agenda berkunjung ke objek wisata Pantai Air Manis yang terletak kurang lebih 10 kilometer ke selatan pusat kota Padang dan melihat Batu Malin Kundang.

Batu yang menjadi simbol anak durhaka ini akan membuat Anda terkagum-kagum karena bentuknya yang memang menyerupai seorang laki-laki yang tengah bersujud atau tertelungkup menghadap tanah. Tidak jauh dari Batu Malin Kundang di sekitarnya terdapat bebatuan-bebatuan besar yang tersebar tersebut diperkirakan adalah kapal besar milik Malin Kundang yang juga berubah menjadi batu.

Jembatan Siti Nurbaya

Novel klasik Siti Nurbaya, Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli telah jadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. kisahnya bahkan pernah diangkat ke layar kaca oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Kepopuleran kisah Siti Nurbaya yang mengangkat Kota Padang sebagai latar tempat secara tidak langsung ikut memperkenalkan kebudayaan Minang kepada khalayak yang lebih luas. Untuk mengenang kepopuleran kisah klasik tersebut, pemerintah daerah memberi penghargaan dengan menamakan sebuah jembatan dengan nama Jembatan Siti Nurbaya.

Jembatan Siti Nurbaya selesai dibangun pada tahun 2002 dengan menghabiskan dana mencapai 1,9 miliar. Dana ini diperoleh dari pemerintah serta dibantu oleh pihak swasta.

Jembatan yang melintas di atas Sungai Batang Arau ini memiliki panjang 60 meter dengan hiasan lampu di bagian tepinya. Pada malam hari barisan lampu tersebut akan membentuk gonjong, yaitu bentuk khas rumah adat Minangkabau.

Baca Juga : Sstt!! Ini Film Semi Terpopuler Saat Ini

Pada bagian bawah jembatan terlihat perahu-perahu nelayan bersandar di tepian sungai. Dari atas jembatan akan terlihat pemandangan alam berupa bukit, masyarakat di sana mengenalnya dengan nama Bukit Gunung Padang. Konon, di bukit inilah jasad Siti Nurbaya disemayamkan.

Menjelang malam, banyak warga setempat yang menghabiskan waktu untuk menyaksikan perubahan warna alam yang natural. Tenggelamnya sang surya di ufuk timur menjadi daya tarik yang dapat terlihat dari jembatan.