Bukan lagi impian untuk masyarakat Indonesia merasakan listrik yang murah. Sebab, dengan semakin berkembang dan majunya teknologi, maka sumber daya listrik yang berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) semakin mudah diakses.

Sayangnya, untuk mewujudkan listrik murah untuk masyrakat Indonesia, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedikit mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena perjanjian-perjanjian yang sudah disepakati pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, sehingga Kementerian ESDM, melalui PLN mengusulkan untuk melakukan renegoisasi.

Perjanjian tersebut terkait dengan pembangunan pembangkit listrik yang masih menggunakan minyak bumi dan batu bara. Nah, perjanjian inilah yang hendak direnegoisasi oleh PLN. Sebab, dengan menggunakan dua bahan bakar tersebut, maka biaya produksi untuk menghasilkan sumber daya listrik menjadi mahal.

Sedangkan, jika dua bahan bakar tersebut diganti menggunakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), seperti panel surya panas matahari, turbin angin, arus laut, panas bumi, dan sebagainya, maka biaya produksi bisa menjadi lebih murah. Dengan demikian, listrik yang murah untuk masyarakat Indonesia pun semakin nyata.

Tapi, kebanyakan masyarakat tidak tahu persoalan ini. Sehingga sering menilai bahwa kinerja PLN lamban dan tidak profesional. Padahal masyarakat bisa memberikan dukungan kepada PLN supaya renegoisasi ini bisa diwujudkan dan berhasil.

Era Listrik Murah

Masyarakat sering kali masih berkutat pada berapa tarif listrik yang harus dibayar. Mereka belum terlalu peduli dengan sumber energi primer pembangkit listrik yang digunakan, apakah gas, BBM, batubara, atau energi terbarukan?

Rakyat Indonesia perlu tahu bahwa besar kecilnya tarif listrik itu ditentukan oleh Biaya Pokok Penyediaan (BPP) tenaga listrik. Nah, sedangkan besaran BPP sendiri ditentukan oleh biaya bahan bakar, yang porsinya mencapai 64%. Sisanya adalah biaya pemeliharaan, penyusutan, administrasi, dsb.

Logikanya begini, jika porsi bahan bakar mencapai 64%, maka solusi yang bisa diambil adalah menurunkan biaya bahan bakar. Tapi, bagaimana hal itu bisa diwujudkan jika harga BBM dan batubara selalu naik?

Solusi yang pasti bisa dilakukan adalah mengganti bahan bakar yang sebelumnya terdiri dari minyak bumi dan batubara, dengan porsi 55%, kemudian gas dengan porsi 26%, dan Energi baru dan Terbarukan sebesar 12%, untuk lebih mengedepankan EBT sebagai bahan bakar utama yang porsinya lebih besar.